Sabtu, 13 Oktober 2012

Hobi Baru Coba2 : Photography Dew Of Plant (Original)

Hobi memang tidak kenal batas, mulai dari menulis, musik, bernyanyi, melukis atau bahkan membuat suatu kreativitas yang unik sehingga bisa menjadi modal dalam berwirausaha.
Termasuk menekuni dunia photography, ya sangat menyenangkan bagi sebagian orang (termasuk saya). kalau boleh dibilang dunia fhoto ini baru saya sukai setelah melihat objek2 yang begitu indah disekitar kita, mulai dari panorama alam, tanaman, serangga hingga hal2 yang dianggap unik untuk dijadikan objek.
Hasil jepretan pertama saya ambil ketika sabtu pagi kemarin (red, 13 Oktober 2012), pada waktu ini saya sedang menjalankan proyek penelitian evaluasi program CSR PT. Hindoli dikawasan Sungai Lilin, MUBA. Objek sendiri saya ambil ditaman milik penginapan, yaitu hotel Anggrek Putih. 
Dengan iseng dan PD saya ambil kamera digital Sony saya yang hanya 12,1 MP dengan zoom 8x. camera itu saya dapatkan ketika memenagi kompetisi progra CSR dari PT. Medco E&P Indonesia.
Meskipun kamera yang pas-pasan, tapi hasilnya menurut salah seorang teman saya "konsepannya lumayan bagus" (#haha, gedubrak, nyengir2 sendiri guwa).
Inilah hasil jepretan sabtu pagi itu :


 Wahh, kalau hasilnya gini, gimana pendapat kalian gan???


Jepretan yang dibilang nekad, tanpa belajar apalagi kursus ditambah kamera yg pas-pasan :D tapi hasilnya bisa dikatakan lumayan bagus. hingga teman saya berkata "hasil fhoto itu gak tergantung jenis camera yang penting konsepannya bro" hix,.xixixi, jadi malu :D
Dan inilah hasil selanjutnya, tara,,,ngggg... !!!


 Itu bunga Asoka dan daun Buah Mangga gan,, gimana??? 
bagus gak, haha (#ngarep)


Petualangan objek terus berlanjut, kali ini objek yang ane ketemui sebuah pohon kayak nanas (entah apa namanya) hahaa. yang penting ane suka terus ane jepret dah tu objek.
Dan Inilah hasilnya, dug..dug...dug.. kjreeennn..nngggg..


 Setelah ane ingat2 gan, ternyata nie phon kayak nanas sering buat ngetarok telur diujungnya... (hahaa, ngakak ane :D)


Lanjutttt, semoga agan2 kagak bosan melihat hasil jepretan ane yang sederhana ini. terus objek selanjutnya bunga2 ditaman (lirik lagu dangdut, hehe :) dengan sigap ane langsung jepret dah beberapa objek, kali ini hasilnya,,,,  


Bunga kertas gan, dipagi hari yg berembut, lumayan bagus yak,, 
(haha, ngerep melulu :D)

 Eiittsss, masih ada gan, ni jepretan terakhir ane sebelum ketua rombongan teriak manggil ane tuk siap2 kelapangan...
Priittttttt, bergegas cepat bak kilat,, hasilnya.. hahaha,.. (nilai ndiri gan :)


Beww,, embunnya enak dipandang mata gak gan???


Ternyata hobi memang kagak terbatas, jepret sana jepret sini, hasilnya nomer sekian dah. apalagi buat pemula. objek yg indah tentu akan lebih abadi jika diabadikan dengan camera yg kita punya, mau kamera digital, hp atau kemare reporter stasiun TV pun kagak apa2 gan. hahaa.
Bener ya ternyata nikamat Allah begitu banyak da indah, tergantung bagaimana cara kita menikmatinya. dan Allah mengatakan beberapa kali dalam firmannya (persisnya kurang tau ane gan, brapa kali yakk??? hahah :) yang pasti bunyinya "bagi orang2 yg berfikir". semoga kita termasuk ya...
Amiinn.
SEMOGA MANFAAT :D

Kamis, 04 Oktober 2012

"PLN, Berbenah Menerangi Negeri"


"Manajemen PT PLN (Persero) telah menegaskan komitmennya untuk menjalankan praktek penyelenggaraan korporasi yang bersih dan bebas dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme, sekaligus menegakkan Good Corporate Governance (GCG) dan anti korupsi dalam penyediaan tenaga listrik bagi masyarakat" (akudanpln.blogdetik.com).


PLN dalam pandangan Sosial dan Ekonomi
Perusahaan Listrik Negara (PLN) memang sangat dirasakan kebaradaanya di negeri ini, bagaimana tidak tanpa listrik suatu negara tidak akan pernah maju. Kenapa demikian, lihat saja seluruh sektor pekerjaan, baik pertanian, industri, perbankan hingga pemerintahan semuanya membutuhkan yang namanya listrik. Selain hal tersebut PLN juga secara tidak langsung turut serta dalam membangun perekonomian Negara Indonesia. Kondisi ini bisa dilihat dari laba bersih PLN tahun 2011 kemarin yang tumbuh 16% ke Rp11,7 triliun, dengan lompatan pendapatan sebesar 31,7% menjadi Rp213,9 triliun. Tentunya fakta ini dapat menjawab “opini publik” yang mengklaim PLN selalu merugi.
Tidak hanya itu, dalam pandangan ekonomi (menurut saya) jika PLN bangkrut maka tidak menutup kemungkinan Negara akan ikut bangkrut dengan asumsi semua sektor yang butuh akan ketersedian listrik (pertanian, industri, perbankan dan pemerintahan) tentu akan ikut bangkrut. Hal ini sudah dapat dilihat dari kejadian pemadaman PLN secara bergilir di Jakarta dan sekitarnya telah membuat berbagai industry merugi puluhan hingga ratusan juta rupiah. Lantas pertanyaannya bagaimana jika PLN benar-benar di tutup?.
Sedangkan dari segi sosial PLN-pun turut serta membangun Indonesia. Bagaimana bentuk kepedulian sosial PLN terhadap kemajuan bangsa, tentu jawaban yang telah direalisasikan oleh PLN adalah terus bekerja tanpa henti untuk menerangi seluruh negeri ini. Walaupun tujuan sosial menerangi seluruh negeri ini adalah tanggung jawab PLN inilah yang dinamakan dengan tanggung jawab sosial. Tidak hanya sebatas itu, PLN yang juga perusahaan BUMN terus memberikan konstribusi yang bersifat sosial kepada masyarakat, hal ini bisa kita lihat dari bantuan soaial kepada masyarakat yang berasal dari dana CSR PLN (Corporate Sosial Responbility) atau tanggung jawab sosial perusahaan yang berorientasi pada pengembangan energi kelistrikan dan pengembangan masyarakat. Ada pun program sosial tersebut yaitu (PLN, 2011) :
1.      Program desa mandiri energi yang meliputi kegiatan : Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), Pembangkit listrik biogas, Pendidikan dan penyuluhan, Pelestarian alam termasuk penghijauan.
2.      Program Pengembangan Masyarakat yang meliputi : Program Kemitraan (PK), dan Program Bina Lingkungan.

PLN dan Permasalahannya
            Selain keunggulan diatas tentu PLN tidak luput dari berbagai macam permasalahan. Berbagai permasalahan PLN yang dapat saya sampaikan secara garis besar adalah :
·         Subsidi PLN yang tidak terpenuhi sehingga tarif dasar listrik terus menerus merangkak ke tingkat tinggi, sehingga hal ini membuat masyarakat terutama kalangan ekonomi kebawah dimampu memasang listrik. Tentu hal ini tidak luput dari peran serta pemerintah. Karena (Muttaqien, Ihsanul. 2008) mengatakan kebutuhan subsidi listrik membengkak hingga Rp. 70 triliun yang jadi permasalahnya adalah  pemerintah hanya mampu mensubsidi Rp 61,01 triliun saja.
·         Tingkat kebocoran /pencurian listrik yang tinggi (20-30%). Sebagai contoh banyak lampu-lampu penerangan umum baik dikota-kota, kelurahan, kecamatan menyambung langsung dan tanpa bayar ke PLN. Belum lagi pencurian-pencurian listrik lainnya yang sangat sulit diatasi. Pencurian listrik memang masih menjadi musuh utama dan telah secara intensif dan sistematis diberantas (DoddyBP, dkk. 2008).
·         Permasalahan selanjutnya adalah tentu dari masyarakat sendiri, tunggakan listrik contohnya. Tentu semakin banyak masyarakat yang menunggak listrik akan berpengaruh nyata terhadap perkembangan PLN yang akan berdampak pada terhambatnya pensuplaian listrik kedaerah-daerah yang belum teraliri listrik.
·         Dan yang terakhir adalah masih adanya daerah yang belum teraliri listrik dari seluruh wilayah di Indonesia hingga tahun 2011 kemarin PLN baru menjangkau 72% wilayah Indonesia. Berarti masih ada 28% wilayah Indonesia yang belum teraliri listrik (108csr.com, 2012).
Terlepas dari semua permasalahan diatas, permasalahan listrik tidak hanya menjadi tanggung jawab PLN semata, tentu dukungan dari semua kalangan sangat diperlukan. Dukungan tersebut mulai dari masyarakat untuk taat membayar iuran listri, pemerintah yang harus menambah dana subsisi listrik untuk masyarakat ekonomi bawah hingga para investor yang turut dalam mengembangkan cakupan suplay listrik nasional.

PLN Berbenah, Reformasi PLN untuk Negeri
            Masalah tidak hanya sekedar masalah, jika hanya ditelantarkan tentu masalah diatas akan semakin sistemik. Harus ada perubahan atau reformasi di perusahaaan BUMN ini dalam bentuk solusi kongkrit. Ternyata perubahan itu tidak hanya sekedar wacana, hal ini telah dibuktikan dengan  kesungguhan tekad dan kerja keras untuk menerangi negeri ini. Berdasarkan pengamatan saya beberapa kinerja PLN daalam mengatasi permasalahan diatas patut diapresiasi, kinerja tersebut diantaranya :
·         Adanya terobosan baru dari PLN dalam hal pemasangat listrik, yaitu pengisian listrik dengan sistem isi ulang. Tentu hal ini terobosan yang sangat jitu dalam hal mengantisipasi penunggakan listrik dan pemalingan daya listrik.
·         Adanya terobosan berupa kerjasama PLN dengan berbagai pihak dalam kemudahan membayar listrik. Karena sekarang membayar listrik bisa dimana saja (ATM, bank, dsb) tidak perlu lagi mengantri seperti zaman dahulu.
·         Adanya kebijakan membayar listrik tidak harus diakhir bulan, bayar listrik juga bisa dilakukan mingguan, hal ini bertujuan untuk mengantisipasi rakyat kecil dalam hal membayar listrik agar tidak terasa numpuk.
·         Dan yang terakhir menurut saya adalah adanya program sehari sejuta pemasangan listrik yang buat oleh mantan Dirut PLN Dahlan Iskan.
Dengan kondisi ini, semoga PLN dapat terus berbenah dan menerangi negeri dengan sinarnya.

Ajakan dan Seruan : “Ayo Hemat Listrik”
            Hemat listrik seharusnya menjadi tanggung masing-masing individu, dengan kesadaran bahwa masih adanya orang yang belum teraliri listrik. Untuk itu mari kita berhemat misalnya hanya dengan menyalakan lampu pada malam hari dari pukul 17.30 hingga 23.00, atau sekedar mematikan TV ketika hendak tidur, mematikan lampu belajar ketika siang hari atau dengan menggunakan air seperlunya (untuk yang menggunakan pompa) :D.
            Wahai saudaraku keberlangsungan listrik tidak hanya ada ditangan PLN, tetapiu ada ditangan kita selaku masyarakatnya.

Semoga Manfaat,
Hidup PLN,
Hidup Rakyat,
Jayalah Selalu Indonesia.

Penulis : Ahmad Daud Alamsyah,
Mahasiswa Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian Universitas Sriwijaya.

Rabu, 03 Oktober 2012

Kemelut Kasus Video Porno Buah Dari “Akhlaq Diri Bangsa” yang Jauh Dari Agama

Artikel ini Dibuat Pada Februari 2010, Pada Ajang pemilihan Ketum LDF BWPI Unsri
(Artikel By : Ahmad Daud Alamsyah)

Akhlaq diri seorang manusia….
Indah dilihat oleh mata…..
Senang dirasa oleh hati…..
Setiap orang jatuh hati……

(Song by : Umam, akkhlaq diri manusia)
Assalammualaikum.wrwb
Begitulah sepenggal untaian lagu yang begitu tersirat dihati kita jika kita benar-benar memahami akan makna lagu tersebut. Bicara soal akhlaq tentu kita tidak terlepas bicara akan agama. Didalam agama kita islam, tentu seseorang yang baik akhlaqnya termasuk didalam golongan orang-orang
yang beruntung, yang akan menghuni jannahNya Allah SWT. Tentunya untuk mencapai kesempurnaan akhlaq diri seorang manusia tidak terlepas bagaimana peran sertanya dalam membina dirinya akan iman yang diyakininya. Bicara soal membina iman, pastinya kita akan menanamkan nilai-nilai religius tersebut sejak dini, yang pasti ini tidak terlepas akan peran serta dari orangtua, keluarga dan lingkungan sekitar. Metode pembinaan diri yang paling baik adalah dengan Tarbiyah atau pembelajaran.

Mau dibawa kemana akhlaq kita……
Berpinjak dari pemaparan paragraph pertama mengenai tarbiyah atau pembelajaran, ternyata metode ini telah dipakai sejak zaman nabi kita mulai dari nabi adam hingga nabi Muhammad SAW. Dimana metode tarbiyah mereka benar-benar teruji secara teori dan praktek. Masih ingkatkah engkau kisah seorang budak sahaya yang juga pengumandang azan pertama dipadang mesir makkah, ya dia adalah Bilah Bin Rabbah, ketika ia digulingkan ditengah gurun pasir yang teraamat panas, kemudian ditindih lagi dengan batu besar yang sudah dipanggang, semua itu dilakukan dengan tujuan agar sang Bilal bin Rabbah meninggalka islam, lantas apa jawab sang Bilal, ia Menjawab Ahad,,Ahad,,,!. Begitu luar biasanya tarbiyah mereka pada saat itu teori langsung praktek.dan itu mereka lakukan berdasarkan firman allah dalam Q.S Al-Jumu’ah : 2, dan perhatikan ketiga kata yang saya tebalkan :
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang Membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan al-hikmah. Dan sesungguhnya mereka bener-benar dalam kesesatan yang nyata.”
Dari Q.S Al-Jumu’ah : 2 diatas telah jelas bahwasanya pada zaman nabi metode tarbiyah dilakukan dengan tiga proses yakni mambacaka, setelah membaca lantas mereka langsung mensucikan bahwa hal tersebut memang benar adanya setelah itu baru langsung mengajarkan.

Lantas Bagaimana Dengan Kondisi Sekarang……..
Dari zaman siti khodijah kezaman luna maya………
dari zaman tarbiyah ke zaman teknologi informatika…
Mungkin begitulah sedikit gambaran mengenai keadaan kita sekarang, yang sedang marak adalah kasus korupsi pembunuhan dan video porno mirip artis Ariel Peterpan, Luna Maya dan Cut Tari. Belum lagi selasai sekarang muncul lagi dengan mirip artis BCL. Entah benar atau tidak yang pasti sekarang kasus tersebut telah menjadi kasus yang menjadi heboh, serta perbincangan yang begitu menarik. Sampai-sampai hal ini masuk keranah perpolitikan.
Wajar saja ini menjadi perbincangan yang begitu menarik bagi semua golongan, karena video mesum "visum" tersebut telah menjadi polemik publik, bayangkan ada beberapa remaja setelah menonton video porno mirip artis tersebut langsung melakukan tindak pemerkosaan terhadap anak dibawah umur...weleh-weleh...
Dan tentunya visum tersebut telah menjadi download terlaris dibeberapa situs internet.dengan adanya visum tersebut setidaknya ada beberapa dampak yang negatif yaitu :
- tindak kriminal asusila meningkat
- setiap media cetak maupun elektronik tidak henti2nya memperbincangkan hal ini padahal masih banyak "kasus-kasus" negara yang perlu menjadi sorotan utama.
- mempengaruhi pemikiran kita akan tindakan visum yang dilakukan artis itu benar, karena memang artis selalu dikaitkan dengan kehidupan yang glamor.....nauzubillahiminzalik.......
padahal jika kita memang benar-benar orang yang beriman tentunya kita akan menjadi orang yang takut akan kemaksiatan. karena telah jelas bahwa allah telah menjelaskan dalam alquran yang artinya " dan janganlah kamu mendeklati zina " mendekati saja gak boleh apalagi melakukan....
Wahai para penerus bangsa sesengguhnya bangsa kita ini mau dinbawa kemana, akankah kehancuran bangsa kita sudah didepan mata, jika akhlak pemuda bangsa masih seperti ini. jika kita ingin merubah bangsa manjadi yang lebih baiok maka "rubahlah dari diri sendiri"...
Yang pastinya metode tarbiyah yang dilakukan pada zaman-zaman nabi sekarang tidak lagi digunakan oleh generasi kita. Sekarang kita hanya terpaku kepada hal-hal yang instant, sehingga kita menjadi ketergantungan. Sekarang telah banyak serangan-serangan pemikiran dari kaum yang benci akan islam..

“maka dari itu sadarlah saudaraku, sesungguhnya diri ini akan kembali kepadaNya Allah SWT, lantas apa yang akan kita pertanggungjawabkan jika kita tak mempunyai bekal apapun, yang pastinya kita akan selalu ditemani amal buruk kita dialam kubur, dan menginjak rumak akherat yang buruk pula, yaitu neraka”

“wahai engkau yang masih berjuang dijalan Allah, Allah tahu betapa letihnya dirimu, betapa beratnaya amanah yang engkau beban, dan betapa besarnya tantangan dirimu untuk mengajak setiap insane kejalan yang lurus, engkau selalu “dicemoohkan” orang, dianggap orang “membual” dan dianggap orang “fanatic”, tapi ketahuilah wahai saudraku, sesungguhnya Allah telah mempunyai rencana indah teruntukmu yang masih tetap dijalan dakwah, yakni syurga Allah yang begitu luar biasa indahnya yang tak pernah engkau lihat didunia”

Semoga bermanfaat…..
Wassalammualaikum.wr.wb

Tiga Perkara Yang Tak Akan Putus (Amalan Jariyah)

::semangat menjadi manfaat::

Assalam.wr.wb
"Rasulullah SAW Bersabda : ketika anak cucu adam meninggal dunia maka putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara : Pertama Amal jariyah, Kedua Doa anak yang sholeh, Ketiga Ilmu yang bermanfaat" (H.R. Buchori Muslim)

Lantas yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apakah kita sudah memiliki ketiga amal tersebut ? tentu jawabannya adalah pada diri kita sendiri. tetapi yang pasti kita sebagai insan ilmy (pelajar & mahasiswa) setidaknya mempunyai satu amalan dari ketiga amalan tersebut. yaitu amalan yang ketiga ilmu yang bermanfaat. sesungguhnya perbuatan, harta dan termasuk ilmu kita akan diminta pertanggungjawaban dihadapan Allah SWT.

Berbicara masalah ilmu, apakah ada diantara kita yang berfikir mau "dibawa kemana" ilmu kita. apakah hanya sebagai tiket masuk didunia kerja, atau hanya haus akan gelar dan jabatan ?, tentu tidak! tetapi yang paling penting adalah bagaimana cara kita mengaplikasikan dan mengimplementasikan ilmy yang kita miliki kepada orang disekitar kita yang membutuhkan. sehingga orang tersebut merasa terbantu dengan ilmu yang kita miliki. misalnya mengajar IQRA di TK-TPA di tempat kita tinggal atau bahkan yang lebih mudah dan selalu diperbuat oleh setiap orang muslim adalah mengajarkan kalimat basmalah (bismillahirrahmanirrahim) . didalam sebuah hadits dikatakan yang kurang lebih isinya adalah suatu amalan yang tak pernah putus meskipun ia telah meninggal dunia ibarat sebutur padi, dimana sebutir padi tersebut tumbuh menjadi tujuh butir, dantiap-tiap tujuh butir tersebut menumbuhkan tujuh butir lagi, dan setiap butir yang jatuh akan menghasilkan tujuh butir lagi.

Subhanallah, luar biasa jika kita mempunyai ilmu yang bermanfaat bagi orang lain tentu kita akan termasuk golongan yang beruntung dan mendapat syurganya Allah.
Lantas, bagaimana jika ilmu yang kita amalkan berupa ilmu yang buruk, misalnya hal yang paling sederhana adalah mengajari orang mencontek dan ngepek, atau bahkan sampai kehal yang besar sekalipun seperti perjudian, pembunuhan dsb. jawabannya adalah maka amalan tersebut akan terus berjalan meskipun ia telah meninggal dunia, yang intinya sama seperti sebutir padi tadi. tentunya ia termasuk kedalam orang-orang yang merugi dan akan menghuni neraka nya Allah SWT. Nauzubillahhiminzalik.

Ayo saudaraku, berhentilah dalam berbuat keburukan, sekarang zamannya kita berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan.

terima kasih
semoga bermanfaat.
was.wr,wb

By. Ahmad Daud Alamsyah

Dilema Pertanian Organik VS Pertanian Anorganik

Tulisan Ini dibuat Pada Saat Diskusi Mata Kuliah Dasar-Dasar Penyuluhan

Apa sich dilemanya? yang pasti, pertanian sekarang ini bisa dikatakan menjadi sebuah dilema, dimana :
1. Disatu sisi petani menginginkan sarana produksi (input) yang murah dalam hal ini pupuk dan pengendalian hama (ex: pestisida dan pupuk anorganik) dan menginginkan hasil prodiksi (output) yang tinggi.
2. Tapi disisi lain masyarakat menginginkan hasil produksi yang bebas akan pestisida (organik) terlebih lagi desakan dari pakar lingkungan yang menyatakan bahayanya dari simtem pertanian yang konvensional (anorganik).
Perrmasalahan yang timbul :
1. Petani banyak belum mengerti akan betapa pentingnya pertanian organic
2. Persediaan pupuk organik yang tidak sesuai dengan luas areal peretanian
3. Harga yang relatif mahal, yang menyebabkan faktor produksi juga meningkat sehingga produk yang sampai ditangan konsumen juga mahal.
Solusinya adalah :
1. Untuk petani seharusnya menyadari akan kebutuhan konsumen yang kian lama semakin mengerti akan pentingnya kesehatan, sehingga konsumen berusaha mencari produk-produk pertanian yang bebas atau paling tidak sedikkit mengandung bahan kimia. tetapi memang harga untuk produk tersebut relatif lebih mahal.
2. Untuk pemerintah dan institusi terkait (Din.Pertanian,din.Kesehatan PPl dll) seharusnya selalu memberikan penyuluhan pentingnya akan arti kesehatan, terutama untuk dimasa mendatang (masa tua), dan pemerintah juga berperan dalam menyediakan pupuk organik (kompos, kandang, bokashi, dll) yang sesuai dengan kebutuhan petani, dan harusd mensubsidi pupuk tersebut sehingga harganya murah, dan produk yang beredar dfimasyarakatpun akan relatif sedikit lebih murah.
Terima kasih,
Semoga bermanfaat,
Was.wr.wb

Mafia Peternakan

Angan – Angan Swasembada Daging 2014
(Realita Bangsa Yang “Kaya” Impor dan Mafia)

Oleh
Ahmad Daud Alamsyah
Mahasiswa Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian
Universitas Sriwijaya, Palembang
Pada awal penulisan artikel ini saya akan mengatakan bahwa pemerintah saat ini “kurang” memperhatikan kondisi ekonomi rakyat. Coba kita simak pada UU No.18 Tahun 2009  tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, terutama pada Pasal 36 ayat 5 yang mengakatakan : “Pemerintah berkewajiban untuk menciptakan iklim usaha yang sehat bagi hewan atau ternak dan produk hewan”. Jika kita cermat, maka kita akan berkesimpulan pemerintah saat ini telah terang-terangan melanggar Undang-Undang (UU)?.
Pada pasal tersebut ada sepenggal kalimat yang mengatakan “…menciptakan iklim usaha yang sehat…”. “Sehat”, sesuatu yang sulit didapat oleh peternak kita saat ini, betapa tidak ketika UU ini ditetapkan dan disahkan pada tahun 2009 kemarin tidak kunjung membuat kondisi peternak indonesia “sehat” alias sejahtera. Hal ini disebabkan karena para pengambil kebijakan untuk kemaslahatan 240 juta masyarakat Indonesia (pemerintah) belum mempunyai “nyali” untuk mandiri diberbagai sektor terutama sektor peternakan dan yang mencakup didalamnya seperti daging dan susu.
“Iklim usaha yang sehat” seperti disinggung pada pasal 36 ayat 5 diatas hanya coretan hitam diatas putih belaka. Bagaimana tidak, ketika pasar daging di Indonesia (terutama sapi) dibanjiri oleh daging impor murah dari negeri kangguru “Australia” yang telah merusak tata niaga dan harga daging di tingkat lokal. Akibatnya, para peternak selalu merugi sehingga tingkat kesejahteraannya terus menurun dan membuat peternak lokal kita menjadi terus terpuruk. Apakah kondisi seperti ini yang disiggung oleh pasal tersebut???. Atau pernyataan saya yang keliru, yang menyatakan pemerintah telah melanggar UU???.
Coba kita kilas balik kejadian yang terjadi pada bulan Mei 2011 lalu tentang video kekerasan pada sapi yang terjadi di beberapa Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di Indonesia yang berakhir pada penghentian impor sapi dari Australia ke Indonesia selama 6 bulan. Tapi nyatanya penghentian itu tidak sepenuhnya 6 bulan, hanya berlangsung selama kurang lebih satu bulan. Namun penghentian impor sapi ke Indonesia yang hanya berlangsung sekitar satu bulan tersebut langsung merugikan para peternak Australia hingga miliaran rupiah. Yang membuat Perdana Menteri Australia Julia Gillard akhirnya memutuskan memberikan bantuan kepada para peternak sapi Australia hingga AUD 30 juta (US$ 32 juta) atau sekitar Rp 288 miliar, karena rugi akibat keputusan penghentian ekspor daging sapi ke Indonesia tersebut.
                Sederet angka rupiah fantastis yang diberikan oleh pemerintah Australia kepada peternak lokal “negeri kangguru” yang pada saat itu sedang mengalami keterpurukan. Lantas yang menjadi pertanyaan, bagaimana dengan pemerintah kita sekarang, apakah “masih ada nyali” untuk membuat kebijakan dan mengimplementasikannya secara benar yang bedampak kepada kesejahteraan masyarakat banyak terutama dikalangan peternak lokal negeri ini???. Memang banyak program yang dibuat pemerintah untuk kemajuan di bidang peternakan, terutama untuk menyongsong swasmbada daging 2014. Bahkan jumlah rupiah (alokasi dana) untuk program penyelamatan sapi betina produktif oleh Direktorat Jendral Petenakan dan kesehatan Hewan Kementrian Pertanian pada tahun 2011 ini mencapai angka 700M rupiah. Namun, angka hanya sekedar angka yang tidak berdampak kepada kesejahteraan peternak lokal Indonesia, hal ini disebabkan kaena masih “buruknya” jiwa jujur pejabat kita yang lebih doyan mengenyangkan perut sendiri dibandingkan mengenyangkat perut umat.
                Bangsa saat ini memang lagi mengalami kondisi “kaya” impor dan mafia. Betapa tidak, jumlah impor daging Indonesia tahun 2011 ini mencapai 72.000 ton. Ternyata angka impor tersebut belum mencukupi kebutuhan daging di negeri kaya ini, sehingga pemerintah memutuskan untuk menambah impor 28.000 ton lagi, sehingga tahun 2011 ini jumlah impor daging Indonesia mencapai 100ribu ton (wajar kondisi ini membuat peternak kita menjerit), karena pemerintah lebih mengutamakan impor daripada pengembangan peternak lokal.
Lantas bagaimana dengan praktek mafia peternakan di Indonesia?. Secara sederhana saja, mafia secara kasar dapat diartikan sebagai “perampok”, kalau mau halus dapat dikatakan sebagai “penjahat umat” tinggal mau pilih redaksi yang mana kasar atau halus. Ironisnya mafia peternakan tidak hanya didatangkan dari dalam negeri tetapi juga diluar negeri. Sebagai contohnya, “mafia luar negeri” Australia misalnya, berperan dalam menghambat perkembangan peternakan di Indonesia dengan cara menyulitkan impor sapi betina produktif ke Indonesia. Alhasil, pemerintah seolah-olah kehabisan ide cerdasnya untuk mengatasi permasalahan ini, padahal kita punya potensi ternak lokal yang luar biasa seperti sapi bali, sapi madura dan sapi aceh yang dapat berkembang jika dikembangkan secara intensif dengan sentuhan teknologi modern. Tentunya, tidak hanya pemrintah yang hanya berperan dalam kemajuan peternakan di Indonesia tetapi perlu juga ide segar dari kalangan akademisi dan pihak terkait, hanya saja persentasi peran pemeritah lebih besar dibandingkan pihak lain.
Belum selesai masalah “mafia luar negeri” perkembangan peternakan kita juga dihambat oleh praktek “mafia dalam negeri”. Mafia harga misalnya, saya pernah berdiskusi dengan rekan mahasiswa di Jawa Timur (sekarang sudah alumni) permainan harga sendiri dilakukan oleh anggota kelompok pedagang jual beli daging sapi sendiri, yang selisih marginnya mencapai Rp25ribu per kg. Di tingkatan peternak sendiri keuntungan tidak mencapai angka setinggi itu, padahal peternak hulu (pembudidaya) lebih banyak mengeluarkan modal, mulai dari pemeliharaan, benih ternak hingga pemberian pakan ternak yang harganya melambung tinggi sedangkan mafia harga hanya bermodalkan “kaya modal” saja.
Selain mafia harga, ada juga yang namanya mafia “ternak berdasi” yang hobinya menghabiskan uang bantuan untuk masyarakat. Meskipun belum terbukti, coba kita tinjau kembali alokasi dana yang diberikan oleh pemerintah Indonesia yang berjumlah 700M untuk program penyelamatan sapi betina produktif, yang jika dana tersebut benar pada proporsi penggunaan yang semestinya seharusnya Indonesia tidak lagi mengimpor daging. Tapi kondisi sekarang indonesia masih ketergantungan dengan yang namanya impor daging terutama dari negeri kanguru tersebut.
Maka wajar kalau saya mengatakan swasembada daging 2014 hanya angan-angan belaka, karena “kaya” impor dan mafia masih merajalela di tanah air ini. Meskipun surplus daging kalau didapat dari hasil impor artinya kita belum bisa swasembada daging. Sebagai penutup yang sedikit mengkritik, jika pemerintah Indonesia gagal swasembada daging pada tahun 2005, kemudian gagal lagi pada tahun 2009, yang menjadi pertanyaan akankah 2014 terjadi kegagalan yang sama???. Terakhir, kesimpulan sekaligus solusi hentikan impor, berantas mafia peternakan dan manfaatkan serta hargai potensi lokal negeri ini.